Oleh: Eko Tjiptojuwono, SE, MM, MMPar.

Masa depan pekerjaan sedang dibentuk kembali oleh pertemuan kekuatan transformatif, yang masing-masing saling terkait dengan cara yang kompleks dan dinamis. Di antara kekuatan-kekuatan ini, ada tiga yang menonjol sebagai yang paling berpengaruh: geoekonomi, demografi, dan ekonomi hijau. Bersama-sama, mereka mendefinisikan ulang pasar tenaga kerja global, mengubah keterampilan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan, dan menciptakan tantangan serta peluang bagi pekerja, bisnis, dan pemerintah. Artikel ini menyelidiki bagaimana kekuatan-kekuatan ini membentuk masa depan pekerjaan, mengeksplorasi dampak masing-masing dan cara-cara di mana mereka saling bersinggungan untuk mendorong perubahan yang mendalam.
Geoekonomi: Perubahan Lanskap Kekuatan dan Perdagangan Global
Geoekonomi mengacu pada persimpangan geografi, ekonomi, dan politik, serta bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi dinamika kekuatan global dan hubungan perdagangan. Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap ekonomi global telah mengalami perubahan signifikan, didorong oleh kebangkitan ekonomi negara berkembang, konfigurasi ulang rantai pasokan, dan meningkatnya penggunaan alat ekonomi sebagai instrumen strategi geopolitik.
Kebangkitan Ekonomi Negara Berkembang
Salah satu tren geoekonomi paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir adalah kebangkitan ekonomi negara berkembang, khususnya di Asia. Negara-negara seperti Tiongkok, India, dan negara-negara Asia Tenggara telah menjadi pemain utama dalam ekonomi global, yang berkontribusi pada redistribusi kekuatan ekonomi. Pergeseran ini memiliki implikasi yang mendalam bagi masa depan pekerjaan, karena ekonomi ini telah menjadi pusat manufaktur, pengembangan teknologi, dan layanan.
Bagi pekerja di negara maju, hal ini berarti meningkatnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, khususnya di industri yang telah dialihdayakan atau dialihdayakan. Pada saat yang sama, kebangkitan ekonomi negara berkembang telah menciptakan peluang baru untuk kolaborasi dan inovasi, karena bisnis berupaya memasuki pasar dan kumpulan bakat baru.
Konfigurasi Ulang Rantai Pasokan
Pandemi COVID-19 mengungkap kerentanan dalam rantai pasokan global, yang mendorong bisnis dan pemerintah untuk memikirkan kembali ketergantungan mereka pada pemasok jarak jauh. Hal ini telah menyebabkan tren menuju regionalisasi dan reshoring, di mana perusahaan membawa produksi lebih dekat ke tempat asal untuk mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan.
Bagi para pekerja, perubahan ini dapat berarti kebangkitan kembali pekerjaan manufaktur di negara-negara maju, khususnya di industri seperti semikonduktor, farmasi, dan energi terbarukan. Namun, hal ini juga membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan untuk mengoperasikan teknologi manufaktur canggih, yang menyoroti perlunya investasi dalam pendidikan dan pelatihan.
Keadaan Ekonomi dan Perang Dagang
Geoekonomi juga dicirikan oleh penggunaan alat-alat ekonomi—seperti tarif, sanksi, dan perjanjian perdagangan—sebagai instrumen strategi geopolitik. Perang dagang AS-Tiongkok, misalnya, telah memiliki implikasi yang luas bagi perdagangan dan investasi global, mengganggu rantai pasokan, dan menciptakan ketidakpastian bagi bisnis dan pekerja.

Dalam konteks ini, masa depan pekerjaan akan dibentuk oleh kemampuan negara dan perusahaan untuk menavigasi ekonomi global yang semakin terfragmentasi. Pekerja dengan keterampilan dalam perdagangan internasional, diplomasi, dan manajemen risiko akan sangat dibutuhkan, seperti halnya mereka yang dapat beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang berubah dengan cepat.
Demografi: Populasi yang Menua di Negara Maju dan Meningkatnya Pemuda di Negara-negara Berkembang
Demografi memainkan peran penting dalam membentuk masa depan pekerjaan, karena perubahan dalam ukuran populasi, struktur usia, dan pola migrasi memengaruhi pasokan tenaga kerja, permintaan konsumen, dan pertumbuhan ekonomi. Dua tren demografi utama sangat relevan: populasi yang menua di negara-negara maju dan lonjakan jumlah pemuda di negara-negara berkembang.
Populasi Lansia di Negara-negara Maju
Banyak negara maju, termasuk Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, menghadapi tantangan populasi lansia. Seiring dengan menurunnya angka kelahiran dan meningkatnya harapan hidup, proporsi orang dewasa yang lebih tua di masyarakat ini meningkat, yang menyebabkan menyusutnya jumlah tenaga kerja dan meningkatnya tekanan pada sistem jaminan sosial.
Bagi masa depan pekerjaan, pergeseran demografi ini memiliki beberapa implikasi. Pertama, akan ada peningkatan permintaan untuk layanan kesehatan dan perawatan lansia, yang menciptakan peluang bagi pekerja di sektor ini. Kedua, bisnis perlu beradaptasi dengan tenaga kerja yang lebih tua, menawarkan pengaturan kerja yang fleksibel, dan berinvestasi dalam pembelajaran seumur hidup untuk menjaga agar pekerja yang lebih tua tetap terlibat dan produktif.
Pada saat yang sama, populasi yang menua dapat menyebabkan kekurangan tenaga kerja di industri tertentu, khususnya yang membutuhkan tenaga fisik atau keterampilan khusus. Untuk mengatasi hal ini, negara-negara mungkin perlu memikirkan kembali kebijakan imigrasi dan berinvestasi dalam otomatisasi dan robotika untuk melengkapi tenaga kerja.
Ledakan Generasi Muda di Negara-negara Berkembang
Berbeda dengan populasi yang menua di negara-negara maju, banyak negara di Negara-negara Berkembang mengalami ledakan generasi muda, dengan sebagian besar penduduknya berusia di bawah 25 tahun. Tren demografi ini menghadirkan peluang dan tantangan bagi masa depan pekerjaan.
Di satu sisi, tenaga kerja yang muda dan terus berkembang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi, terutama jika kaum muda ini dibekali dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan di masa depan. Di sisi lain, pengangguran dan setengah pengangguran di kalangan pemuda yang tinggi merupakan tantangan yang signifikan di banyak bagian Negara-negara Berkembang, yang menyebabkan ketidakstabilan sosial dan politik.
Untuk memanfaatkan potensi ledakan generasi muda, pemerintah dan bisnis harus berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan kejuruan, terutama di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika). Selain itu, menciptakan lingkungan yang mendukung kewirausahaan dan inovasi dapat membantu kaum muda menciptakan peluang mereka sendiri dalam ekonomi digital.
Migrasi dan Kumpulan Bakat Global
Migrasi adalah tren demografi penting lainnya yang membentuk masa depan pekerjaan. Saat orang-orang berpindah lintas batas untuk mencari peluang yang lebih baik, mereka berkontribusi pada kumpulan bakat global, membawa beragam keterampilan dan perspektif ke tenaga kerja.
Bagi bisnis, ini berarti akses ke berbagai bakat yang lebih luas, memungkinkan mereka untuk mengisi kesenjangan keterampilan dan mendorong inovasi. Bagi pekerja, migrasi menawarkan kesempatan untuk mengejar peluang baru dan meningkatkan mata pencaharian mereka. Namun, migrasi juga menimbulkan tantangan, termasuk kebutuhan untuk integrasi dan potensi brain drain di negara-negara pengirim.
Di masa depan, kebijakan yang memfasilitasi pergerakan pekerja sambil melindungi hak-hak mereka akan menjadi penting. Ini termasuk menciptakan jalur untuk migrasi legal, mengakui kualifikasi asing, dan mempromosikan tempat kerja inklusif yang menghargai keberagaman.
Ekonomi Hijau: Masa Depan Pekerjaan yang Berkelanjutan
Transisi menuju ekonomi hijau mungkin merupakan kekuatan paling transformatif yang membentuk masa depan pekerjaan. Saat dunia bergulat dengan kebutuhan mendesak untuk mengatasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan, ekonomi hijau menawarkan jalur menuju pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja.
Meningkatnya Pekerjaan Ramah Lingkungan
Ekonomi ramah lingkungan mencakup berbagai macam industri, mulai dari energi terbarukan dan efisiensi energi hingga pertanian berkelanjutan dan praktik ekonomi sirkular. Seiring dengan pertumbuhan industri ini, mereka menciptakan peluang baru bagi para pekerja dalam apa yang sering disebut sebagai “pekerjaan ramah lingkungan.”

Pekerjaan ramah lingkungan tidak terbatas pada sektor lingkungan tradisional; pekerjaan ini juga mencakup peran dalam manufaktur, konstruksi, transportasi, dan layanan yang berkontribusi untuk mengurangi emisi karbon dan mempromosikan keberlanjutan. Misalnya, pekerja di industri otomotif dapat beralih ke produksi kendaraan listrik, sementara mereka yang bekerja di konstruksi dapat mengkhususkan diri dalam teknik bangunan ramah lingkungan.
Permintaan untuk pekerjaan ramah lingkungan diperkirakan akan tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, didorong oleh kebijakan pemerintah, inisiatif keberlanjutan perusahaan, dan preferensi konsumen. Namun, transisi ini juga membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan untuk mendukung industri ramah lingkungan, yang menyoroti perlunya program pendidikan dan pelatihan yang mempersiapkan pekerja untuk pekerjaan masa depan.
Transisi yang Adil
Seiring dunia bergerak menuju ekonomi hijau, penting untuk memastikan bahwa transisi tersebut adil dan inklusif. Ini berarti mengatasi potensi pemindahan pekerjaan di industri yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil, seperti pertambangan batu bara dan ekstraksi minyak.

Transisi yang adil melibatkan penyediaan dukungan bagi pekerja di industri ini, termasuk program pelatihan ulang, dukungan pendapatan, dan bantuan untuk mencari pekerjaan baru. Transisi yang adil juga memerlukan keterlibatan dengan masyarakat yang mungkin secara tidak proporsional terkena dampak transisi, memastikan bahwa mereka memiliki suara dalam membentuk masa depan ekonomi lokal mereka.
Peran Teknologi dan Inovasi
Teknologi dan inovasi merupakan pendorong utama ekonomi hijau, yang memungkinkan pengembangan solusi baru untuk tantangan lingkungan. Dari teknologi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin hingga kemajuan dalam penyimpanan energi dan sistem jaringan pintar, teknologi mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi energi.
Bagi para pekerja, ini berarti bahwa keterampilan dalam teknologi dan inovasi akan semakin penting. Ini mencakup tidak hanya keterampilan teknis, seperti teknik dan analisis data, tetapi juga keterampilan nonteknis seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan kolaborasi.
Pada saat yang sama, laju perubahan teknologi yang cepat menghadirkan tantangan, karena para pekerja harus terus memperbarui keterampilan mereka untuk mengikuti perkembangan baru. Pembelajaran seumur hidup dan kemampuan beradaptasi akan sangat penting untuk keberhasilan dalam ekonomi hijau.
Persinggungan dan Sinergi: Bagaimana Geoekonomi, Demografi, dan Ekonomi Hijau Berinteraksi
Meskipun geoekonomi, demografi, dan ekonomi hijau merupakan kekuatan yang kuat, dampak sebenarnya terletak pada bagaimana mereka berinteraksi dan saling memperkuat. Memahami persinggungan ini adalah kunci untuk menavigasi masa depan pekerjaan.
Geoekonomi dan Ekonomi Hijau
Transisi menuju ekonomi hijau sangat terkait erat dengan geoekonomi. Ketika negara-negara berupaya mengurangi jejak karbon dan mencapai kemandirian energi, mereka berinvestasi dalam energi terbarukan dan teknologi hijau lainnya. Hal ini telah menyebabkan bentuk persaingan ekonomi baru, karena negara-negara bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam ekonomi hijau.
Misalnya, Tiongkok telah menjadi pemimpin global dalam produksi panel surya dan kendaraan listrik, sementara Uni Eropa telah menetapkan target ambisius untuk netralitas karbon dan inovasi hijau. Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Biden, juga telah melakukan investasi signifikan dalam energi bersih dan infrastruktur.
Persaingan geoekonomi ini mendorong inovasi dan menciptakan peluang baru bagi pekerja di industri hijau. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang distribusi manfaat dan potensi bentuk-bentuk ketimpangan baru. Misalnya, negara-negara yang kaya akan mineral penting yang dibutuhkan untuk teknologi hijau dapat memperoleh keuntungan ekonomi, sementara yang lain mungkin tertinggal.
Demografi dan Ekonomi Hijau
Demografi juga memainkan peran penting dalam membentuk ekonomi hijau. Populasi yang menua di negara-negara maju mungkin menghadapi tantangan dalam transisi ke pekerjaan hijau, terutama jika mereka tidak memiliki keterampilan yang diperlukan atau menghadapi hambatan untuk pelatihan ulang. Pada saat yang sama, ledakan jumlah pemuda di belahan bumi selatan memberikan peluang untuk membangun generasi pekerja baru yang diperlengkapi untuk mendorong ekonomi hijau maju.
Migrasi juga dapat mendukung ekonomi hijau dengan memungkinkan perpindahan pekerja ke daerah-daerah yang membutuhkan keterampilan mereka. Misalnya, pekerja dengan keahlian dalam energi terbarukan dapat bermigrasi ke negara-negara yang berinvestasi besar dalam tenaga angin atau surya, yang berkontribusi pada upaya global untuk memerangi perubahan iklim.
Geoekonomi dan Demografi
Persinggungan antara geoekonomi dan demografi khususnya terlihat jelas dalam konteks pasar tenaga kerja global. Seiring dengan meningkatnya ekonomi negara berkembang dan menyusutnya populasi lansia di negara maju, keseimbangan global antara penawaran dan permintaan tenaga kerja pun bergeser. Hal ini berdampak pada upah, kondisi kerja, dan distribusi kekuatan ekonomi.
Misalnya, negara-negara dengan populasi lansia mungkin perlu menarik pekerja dari luar negeri untuk mengisi kekurangan tenaga kerja, yang menyebabkan peningkatan migrasi dan perlunya kebijakan yang mendukung integrasi. Pada saat yang sama, negara berkembang dengan populasi muda dan berkembang mungkin berupaya memanfaatkan keunggulan demografi mereka untuk menarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan: Menavigasi Masa Depan Pekerjaan
Masa depan pekerjaan dibentuk oleh kekuatan geoekonomi, demografi, dan ekonomi hijau yang dahsyat. Masing-masing kekuatan ini menghadirkan serangkaian tantangan dan peluangnya sendiri, dan interaksinya menciptakan lanskap yang kompleks dan dinamis yang memerlukan navigasi yang cermat.

Bagi pekerja, ini berarti merangkul pembelajaran dan kemampuan beradaptasi seumur hidup, karena keterampilan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan di masa depan pekerjaan akan terus berkembang. Bagi bisnis, ini berarti berinvestasi dalam inovasi dan keberlanjutan, sekaligus memastikan bahwa tenaga kerja mereka siap menghadapi perubahan di masa mendatang. Bagi pemerintah, ini berarti menciptakan kebijakan yang mendukung transisi yang adil dan inklusif menuju ekonomi hijau, sekaligus mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pergeseran demografi dan persaingan geoekonomi.
Pada akhirnya, masa depan pekerjaan akan dibentuk oleh kemampuan kolektif kita untuk memanfaatkan kekuatan transformatif ini demi kepentingan semua orang. Dengan memahami interaksi antara geoekonomi, demografi, dan ekonomi hijau, kita dapat menciptakan masa depan pekerjaan yang tidak hanya sejahtera tetapi juga berkelanjutan dan adil.
Sumber Referensi:
Abonyi, G. dan D. Abonyi, 2023. Geoeconomics: The Force Shaping Today’s Business. AACSB.
Fägersten, B., 2023. Geoeconomics. The Swedish Institute of International Affairs.
Feingold, S., 2024. Chief economists explore geoeconomic complexities and new drivers of growth: ‘Several opportunities exist’. World Economic Forum. Schneider-Petsinger, M., 2020. Geoeconomics Explained. Chatham House.