Pengelolaan Perhotelan

Housekeeping 5.0: Transformasi Layanan Kamar di Era Digital dan Berkelanjutan

Oleh: R. Paulus Widyalasmono WS, S.ST.Par., M.Par.

Sumber: https://www.liputan6.com/feeds/read/5909181/apa-itu-housekeeping-definisi-tugas-dan-keterampilan-yang-dibutuhkan

Housekeeping, atau bagian tata graha di hotel, kerap dianggap hanya seputar aktivitas bersih-bersih kamar. Namun, dalam realitas industri perhotelan masa kini, housekeeping telah menjelma menjadi sebuah sistem yang kompleks, dinamis, dan strategis. Tidak hanya bertanggung jawab atas kebersihan, namun juga menciptakan pengalaman menginap yang nyaman, aman, dan ramah lingkungan.

Industri hospitality saat ini tengah memasuki fase baru yang sering disebut sebagai “Hospitality 5.0”, yakni integrasi antara teknologi digital, kesadaran lingkungan, dan kebutuhan akan layanan yang bersifat personal. Di tengah transformasi ini, peran housekeeping turut berevolusi, mengikuti denyut perubahan zaman.

Transformasi paling mencolok dalam bidang housekeeping adalah adopsi teknologi digital. Kini, housekeeping tidak lagi menggunakan catatan manual atau walkie-talkie untuk melapor atau meminta bantuan. Banyak hotel telah menggunakan aplikasi mobile khusus housekeeping yang terhubung langsung ke sistem manajemen hotel.

Dengan aplikasi ini, petugas housekeeping dapat melaporkan kondisi kamar secara real-time, meminta peralatan tambahan, hingga memantau permintaan tamu. Proses pelaporan kerusakan fasilitas juga menjadi lebih efisien, cukup dengan memotret dan mengunggah laporan melalui aplikasi.

Tak hanya itu, teknologi Internet of Things (IoT) juga mulai diterapkan di kamar hotel. Sensor otomatis dapat mendeteksi apakah tamu sedang berada di kamar, suhu ruangan, tingkat kelembaban, bahkan status kebersihan. Housekeeping dapat menyesuaikan waktu pembersihan tanpa mengganggu privasi tamu.

Kesadaran akan isu lingkungan juga memicu perubahan besar dalam departemen housekeeping. Istilah “green housekeeping” atau “eco-friendly housekeeping” kini menjadi standar baru di banyak hotel berbintang. Protokol ramah lingkungan mulai dari penggunaan deterjen organik, pengurangan plastik sekali pakai, hingga sistem pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab, telah menjadi bagian dari SOP (Standard Operating Procedure).

Hotel-hotel kini mendorong tamu untuk ikut terlibat dalam gerakan ini, seperti memberikan opsi “towel reuse program” atau meminta persetujuan tamu sebelum mengganti linen setiap hari. Selain itu, banyak hotel yang berinvestasi pada vacuum cleaner hemat energi, peralatan pembersih berbasis uap, dan teknologi water-saving.

Housekeeping tidak lagi sekadar membersihkan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen hotel untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Bahkan, beberapa hotel di Eropa telah mengembangkan sistem pelacakan karbon untuk setiap layanan housekeeping yang mereka jalankan.

Meski teknologi dan isu lingkungan mengambil peran besar, esensi layanan housekeeping tetap tak bisa dilepaskan dari sentuhan personal. Housekeeping yang baik bukan hanya tentang bersih dan rapi, tetapi juga menciptakan kenyamanan psikologis bagi tamu.

Petugas housekeeping dilatih untuk lebih peka terhadap kebutuhan tamu, seperti menata bantal sesuai preferensi atau menyediakan aromaterapi khusus. Bahkan, beberapa hotel menyediakan layanan personal housekeeping yang memungkinkan tamu memilih gaya penataan kamar yang mereka sukai, mulai dari jenis bunga hingga susunan majalah di meja.

Di sinilah, empati dan keramahan tetap menjadi fondasi tak tergantikan dalam housekeeping. Teknologi memang membantu proses, tapi hati tetap menjadi ujung tombaknya.Di balik semua transformasi tersebut, ada satu isu penting yang kini menjadi sorotan global: kesejahteraan pekerja housekeeping. Tuntutan kerja yang berat, risiko kesehatan dari bahan kimia pembersih, hingga ketidaksetaraan gender, menjadi topik yang makin sering diperbincangkan dalam industri perhotelan.

Banyak hotel mulai merespons dengan menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja, memberikan alat pelindung yang memadai, serta memperhatikan jam kerja yang lebih manusiawi. Kesetaraan gender juga terus didorong, dengan memberikan peluang promosi yang setara bagi pekerja housekeeping perempuan maupun laki-laki.

Organisasi seperti International Labour Organization (ILO) dan beberapa serikat pekerja global mendorong hotel untuk menerapkan prinsip “decent work” dalam seluruh proses housekeeping.

Housekeeping masa kini bukan sekadar unit yang “bekerja di balik layar”. Mereka adalah garda terdepan dalam menciptakan first impression dan last impression bagi tamu hotel. Melalui integrasi teknologi, komitmen lingkungan, empati, serta perlindungan hak-hak pekerja, housekeeping kini menjadi wajah baru industri perhotelan yang lebih modern, adil, dan berkelanjutan.

Di era di mana pengalaman menjadi komoditas utama dalam pariwisata, kualitas housekeeping yang adaptif, inovatif, dan humanis akan menentukan posisi sebuah hotel di peta persaingan global.

Sumber Referensi:

International Labour Organization. (2022). Decent Work and Socially Inclusive Tourism. Geneva: International Labour Office.

World Tourism Organization. (2023). Sustainable Tourism Practices: Best Practices in Accommodation and Hospitality. Madrid: UNWTO.

Smith, P. (2021). Smart Hospitality: Integrating Technology in Housekeeping Operations. New York: Hospitality Press.

Johnson, M. (2020). Housekeeping and Sustainability: A Path Toward Green Hospitality. International Journal of Hospitality Management, 89, 102-118. https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2020.102118

Green Hotelier. (2023). Eco-Friendly Housekeeping: Tips and Best Practices for Hotels. Retrieved from https://www.greenhotelier.org

Perez, L. M. (2019). Digital Transformation in Hotel Housekeeping: Challenges and Opportunities. Journal of Tourism and Hospitality Technology, 10(3), 345–360.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *