Oleh: Agus Sudarsono, S.ST.Par., M.Par.

Pariwisata tidak hanya bergantung pada sumber daya fisik seperti alam, budaya, atau infrastruktur, tetapi juga pada faktor non-material yang sering kali terabaikan: modal sosial. Modal sosial merujuk pada jaringan hubungan, kepercayaan, norma, dan nilai bersama yang memungkinkan individu atau kelompok untuk bertindak secara kolektif dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks pariwisata, modal sosial menjadi fondasi penting untuk membangun kolaborasi antar-pemangku kepentingan, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan menciptakan destinasi yang berkelanjutan.
Apa Itu Modal Sosial?
Menurut Putnam (1993), modal sosial adalah “sumber daya yang muncul dari hubungan sosial, kepercayaan, dan norma timbal balik yang memperkuat kohesi masyarakat”. Komponen utamanya meliputi:
- Jaringan Sosial: Hubungan antarindividu, kelompok, atau institusi (misalnya: komunitas lokal, pemerintah, LSM).
- Kepercayaan (Trust): Keyakinan bahwa pihak lain akan bertindak demi kepentingan bersama.
- Norma dan Nilai Bersama: Aturan tidak tertulis yang mengikat masyarakat, seperti gotong royong atau penghormatan terhadap adat istiadat.
Relevansi Modal Sosial dalam Pariwisata
Pariwisata adalah sektor yang sangat bergantung pada interaksi manusia. Modal sosial berperan sebagai “perekat” yang memfasilitasi:
- Partisipasi Masyarakat: Keterlibatan aktif warga dalam pengambilan keputusan, seperti pengembangan desa wisata.
- Pengelolaan Sumber Daya Bersama: Kolaborasi untuk melestarikan alam dan budaya, misalnya menjaga kebersihan destinasi wisata.
- Resiliensi Destinasi: Kemampuan masyarakat menghadapi krisis (misalnya pandemi atau bencana alam) melalui solidaritas dan dukungan kolektif.
Contoh Praktis:
- Di Desa Penglipuran, Bali, modal sosial tercermin dari tradisi gotong royong warga dalam memelihara keaslian arsitektur dan kebersihan desa. Hal ini menjadikan Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata budaya yang diminati.
- Festival Budaya seperti Jember Fashion Carnaval di Jawa Timur sukses karena kolaborasi antara pemerintah, desainer lokal, dan masyarakat.
Tantangan Modal Sosial dalam Pariwisata
Meski penting, modal sosial rentan terkikis oleh:
- Komersialisasi Berlebihan: Konflik kepentingan antara investor dan masyarakat lokal.
- Individualisme: Pergeseran nilai akibat globalisasi yang mengurangi semangat kolektivitas.
- Ketimpangan Akses: Manfaat pariwisata yang tidak merata, menyebabkan kecemburuan sosial.
Modal Sosial
Modal sosial adalah sumber daya kolektif yang berasal dari hubungan sosial, kepercayaan, norma, dan nilai bersama dalam suatu masyarakat. Konsep ini mengacu pada kemampuan individu atau kelompok untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama melalui jaringan sosial yang saling mendukung. Berbeda dengan modal fisik (uang, infrastruktur) atau modal manusia (keterampilan), modal sosial bersifat abstrak tetapi memiliki dampak nyata pada keberhasilan pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.
Komponen Utama Modal Sosial
Menurut Robert Putnam (1993), modal sosial terdiri dari tiga komponen inti:
Komponen | Definisi | Contoh dalam Pariwisata |
Jaringan Sosial | Hubungan antarindividu, kelompok, atau institusi. | Kemitraan antara masyarakat lokal, pemerintah, dan LSM dalam mengelola desa wisata. |
Kepercayaan (Trust) | Keyakinan bahwa pihak lain akan bertindak jujur dan demi kepentingan bersama. | Wisatawan percaya bahwa homestay di Desa Penglipuran, Bali, dikelola dengan transparansi. |
Norma dan Nilai | Aturan tidak tertulis yang mengikat perilaku masyarakat. | Tradisi gotong royong di Jawa untuk menjaga kebersihan destinasi wisata. |
Jenis Modal Sosial
1. Modal Sosial Bonding (Internal): Hubungan erat dalam kelompok homogen (keluarga, suku, komunitas adat). Contoh: Masyarakat adat Baduy bekerja sama melestarikan kearifan lokal sebagai daya tarik wisata.
2. Modal Sosial Bridging (Antarkelompok): Jaringan lintas kelompok yang berbeda (misalnya: komunitas lokal dengan investor). Contoh: Kolaborasi warga Labuan Bajo dengan operator kapal wisata untuk mengatur kunjungan ke Pulau Komodo.
3. Modal Sosial Linking (Vertikal): Hubungan antara masyarakat dengan institusi formal (pemerintah, LSM internasional).
Peran Modal Sosial dalam Pembangunan
- Ekonomi: Mengurangi biaya transaksi melalui kepercayaan (misalnya: kerja sama tanpa kontrak formal), Menciptakan peluang usaha melalui jaringan (contoh: UMKM kerajinan tangan yang terhubung dengan biro perjalanan).
- Sosial-Budaya: Memperkuat kohesi sosial dan resolusi konflik, Melestarikan tradisi melalui norma kolektif (contoh: upacara adat sebagai atraksi wisata).
- Lingkungan: Mendorong partisipasi masyarakat dalam konservasi alam (contoh: program bersih-bersih pantai oleh nelayan).
Modal Sosial dalam Konteks Pariwisata
Pariwisata adalah sektor yang sangat bergantung pada modal sosial karena melibatkan banyak pemangku kepentingan. Berikut aplikasinya:
1. Pengembangan Desa Wisata
- Contoh: Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta.
- Modal Sosial: Gotong royong warga membangun homestay dan atraksi budaya.
- Hasil: Desa ini menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat dengan pendapatan Rp 2 miliar/tahun.
2. Pengelolaan Destinasi Berkelanjutan
- Contoh: Taman Nasional Komodo.
- Modal Sosial: Kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan LSM untuk membatasi kunjungan wisatawan.
- Hasil: Ekosistem komodo tetap lestari, pendapatan masyarakat meningkat.
3. Pemulihan Pasca-Bencana
- Contoh: Gempa Lombok 2018.
- Modal Sosial: Solidaritas warga membangun kembali homestay dan atraksi wisata secara mandiri.
Tantangan Penguatan Modal Sosial
- Globalisasi: Masuknya nilai individualistik mengikis tradisi gotong royong.
- Komersialisasi: Konflik antara kepentingan bisnis dan norma masyarakat (misalnya: pembangunan hotel yang mengganggu situs sakral).
- Ketimpangan Sosial: Kelompok marginal (perempuan, masyarakat adat) sering tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.
Modal Sosial Bonding dan Bridging
Konsep modal sosial bonding dan bridging dikemukakan oleh Robert Putnam (2000) untuk menggambarkan jenis jaringan sosial yang berbeda dalam suatu masyarakat. Keduanya memiliki peran kritis dalam membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan budaya, terutama di sektor pariwisata.
1. Modal Sosial Bonding
Definisi
Modal sosial bonding merujuk pada ikatan kuat dalam kelompok homogen, seperti keluarga, suku, komunitas adat, atau kelompok agama. Jenis modal sosial ini bersifat eksklusif dan bertujuan memperkuat solidaritas internal.
Ciri-Ciri
- Berbasis hubungan emosional dan kedekatan identitas.
- Memprioritaskan kepentingan kelompok di atas individu.
- Memiliki norma dan nilai yang sangat spesifik.
Contoh dalam Pariwisata
- Desa Adat Baduy, Banten
- Masyarakat Baduy mempertahankan tradisi dan larangan modernisasi melalui ikatan bonding yang kuat.
- Hasil: Desa menjadi destinasi wisata budaya unik dengan daya tarik “keaslian”.
- Gotong Royong di Desa Wisata
- Warga desa bekerja sama membersihkan jalan atau menyiapkan festival budaya tanpa imbalan finansial.
Manfaat
- Memperkuat kohesi sosial dan identitas kelompok.
- Memfasilitasi resolusi konflik internal secara cepat.
- Menjaga kelestarian budaya lokal.
Tantangan
- Eksklusivitas: Dapat menciptakan prasangka terhadap kelompok luar.
- Risiko Nepotisme: Prioritas pada kelompok sendiri mungkin menghambat kolaborasi dengan pihak eksternal.
2. Modal Sosial Bridging
Definisi
Modal sosial bridging adalah jaringan yang menghubungkan kelompok berbeda, seperti antar-desa, lintas agama, atau antara masyarakat dengan pemerintah/swasta. Tujuannya adalah memperluas akses sumber daya dan informasi.
Ciri-Ciri
- Bersifat inklusif dan terbuka.
- Mengutamakan kerja sama lintas identitas.
- Memfasilitasi pertukaran ide dan inovasi.
Contoh dalam Pariwisata
- Kolaborasi Desa Wisata dengan Travel Agent Masyarakat Desa Pentingsari, Yogyakarta, bermitra dengan biro perjalanan untuk memasarkan paket wisata budaya.
- Forum Destinasi Super Prioritas Pemerintah, investor, dan LSM lingkungan berdiskusi mengelola Labuan Bajo secara berkelanjutan.
Manfaat
- Meningkatkan akses ke pasar, teknologi, dan pendanaan.
- Mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi antar-kelompok.
- Memperkuat daya saing destinasi melalui diversifikasi produk wisata.
Tantangan
- Konflik Kepentingan: Perbedaan tujuan antar-kelompok bisa memicu ketegangan.
- Komunikasi Tidak Efektif: Perbedaan bahasa atau norma menghambat kolaborasi.
Perbedaan Bonding vs. Bridging
Aspek | Modal Sosial Bonding | Modal Sosial Bridging |
Sifat Hubungan | Homogen, tertutup | Heterogen, terbuka |
Tujuan | Memperkuat solidaritas internal | Membangun jaringan eksternal |
Contoh Aktivitas | Gotong royong, upacara adat | Kemitraan bisnis, forum lintas desa |
Risiko | Eksklusivitas, nepotisme | Konflik kepentingan, miskomunikasi |
Modal sosial bonding dan bridging adalah dua sisi mata uang yang sama. Bonding memperkuat akar budaya dan solidaritas internal, sementara bridging membuka jendela untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Destinasi pariwisata yang sukses memadukan keduanya: menjaga keaslian melalui bonding, sekaligus mengakses peluang global melalui bridging. Tantangannya adalah menciptakan keseimbangan agar tidak terjebak dalam eksklusivitas atau kehilangan identitas. Dengan strategi yang tepat, sinergi ini dapat menjadi kunci menuju pariwisata berkelanjutan yang memberdayakan semua pihak.
Sumber Referensi:
Bambang, S, and Roedjinandari, N. (2017). Perencanaan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Universitas Negeri Malang
Banjarnahor, A.R. et al. (2021) Strategi Bisnis Pariwisata. Yayasan Kita Menulis
Becco, J.A. dan Brown, G. (2013). Integrating space, spatial tools, and spatial analysis into the human dimension of parks and outdoor recreation. Applied Geography 38 (1), 76-85
Bjorn Hettne, (2001), Teori Pembangunan Dan Tiga Dunia, Penerbit Gramedia Pusaka Utama, Jakarta
Bubolz, M.M. (2001) ‘Family as source, user, and builder of social capital’, The Journal of socio-economics, 30(2), pp. 129–131.