Oleh: Agus Sudarsono, S.ST.Par., M.Par.

Industri perhotelan di Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pariwisata dan dinamika sosial-politik bangsa. Keberadaan hotel-hotel di Nusantara bukan sekadar tempat menginap, melainkan juga saksi bisu berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah Indonesia. Dari penginapan sederhana pada masa kolonial hingga hotel berbintang berstandar internasional, industri ini terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan akomodasi yang nyaman serta arus wisatawan yang semakin deras. Artikel ini akan mengulas perjalanan panjang sejarah hotel di Indonesia, mulai dari era kolonial Belanda, masa kemerdekaan, hingga perkembangan kontemporer.
Masa Kolonial: Awal Mula Industri Perhotelan
Sejarah perhotelan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, tepatnya pada abad ke-19. Pada masa ini, hotel dibangun untuk melayani pejabat kolonial, pengusaha, dan wisatawan dari Eropa yang berkunjung ke Hindia Belanda. Munculnya hotel-hotel di Pulau Jawa tidak terlepas dari dibukanya Terusan Suez yang memudahkan kapal-kapal dari Eropa menuju Nusantara. Pada tahun 1910, Belanda mendirikan biro wisata yang menerbitkan buku panduan dan melakukan promosi pariwisata melalui brosur, sehingga pada awal abad ke-20 terjadi kejayaan pariwisata Hindia Belanda.
Hotel-hotel pertama umumnya berlokasi di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, dan Makassar. Beberapa hotel yang tercatat telah berdiri pada masa itu antara lain Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal, dan Hotel Rijswijk di Jakarta; Hotel Sarkies dan Hotel Oranje (kini Hotel Majapahit) di Surabaya; Hotel Du Pavillion di Semarang; Palace Hotel di Malang; serta Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger di Bandung.
Hotel Savoy Homann yang berdiri pada tahun 1871 dinobatkan sebagai salah satu hotel tertua di Indonesia. Awalnya bernama Hotel Homann sesuai nama pemiliknya yang berkebangsaan Jerman, bangunan ini kemudian direnovasi pada tahun 1937 dengan gaya Art Deco Streamline oleh arsitek A.F. Albers. Sementara itu, Hotel Majapahit di Surabaya yang awalnya bernama Hotel Oranje didirikan pada tahun 1910 oleh keluarga Sarkies bersaudara, konglomerat Armenia yang memiliki banyak bisnis perhotelan di Asia Tenggara. Hotel-hotel ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan, tetapi juga menjadi pusat perundingan politik dan tempat lahirnya keputusan-keputusan penting pada zamannya.
Peran Hotel dalam Perjuangan Kemerdekaan
Memasuki era pergerakan nasional dan kemerdekaan, hotel-hotel di Indonesia berubah fungsi menjadi saksi dan lokasi berbagai peristiwa heroik. Peristiwa paling terkenal terjadi di Hotel Majapahit Surabaya pada 19 September 1945, ketika arek-arek Suroboyo merobek bendera Belanda yang berkibar di hotel tersebut. Peristiwa ini melatarbelakangi pecahnya perlawanan dan puncaknya terjadi pada 10 November 1945 yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.
Hotel Savoy Homann di Bandung juga memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Pada tahun 1955, hotel ini dijadikan tempat menginap para delegasi dan pemimpin negara peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA). Kamar 244 misalnya ditempati oleh keluarga Presiden Soekarno, kamar 344 oleh Perdana Menteri RRC Zhou Enlai, dan kamar 144 oleh delegasi India Jawaharlal Nehru. Di luar Pulau Jawa, Hotel Raden Nangling di Palembang yang didirikan pada tahun 1905 oleh pengusaha pribumi Raden Nangling, pada tahun 1945 digunakan sebagai markas laskar perjuangan hingga tahun 1947. Hotel-hotel ini menjadi saksi bisu bagaimana industri perhotelan turut berperan dalam dinamika perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Perkembangan Hotel di Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, sebagian besar hotel-hotel peninggalan kolonial diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Sebagai contoh, Hotel Des Indes diambil alih pada tahun 1960 dan berganti nama menjadi Hotel Duta Indonesia, meskipun kemudian bangunannya dibongkar pada tahun 1971 untuk didirikan pertokoan Duta Merlin. Hotel Mij De Boer di Medan beralih menjadi Natour Dharma Deli. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pembangunan hotel menjadi bagian dari politik mercusuar untuk menunjukkan kemajuan bangsa kepada dunia internasional.
Hotel Indonesia di Jakarta merupakan hotel berbintang lima berstandar internasional pertama yang dibangun setelah kemerdekaan. Hotel ini dibangun pada 5 Agustus 1962 dari dana pampasan perang Jepang dan diresmikan oleh Soekarno dalam rangka menyambut Asian Games IV. Dirancang oleh arsitek asal Amerika Serikat, Abel Sorensen dan Wendy, hotel ini menjadi gedung tertinggi pertama di Jakarta pada masanya. Pada tahun 1963, dibangun pula Hotel Bali Beach yang menjadi cikal bakal perkembangan pariwisata di Pulau Dewata, menyusul diresmikannya Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional tiga tahun kemudian. Inna Samudra Beach Hotel di Pelabuhanratu yang dibangun pada tahun 1962 juga merupakan salah satu proyek Bung Karno, meskipun baru selesai setelah beliau lengser.
Perkembangan Hotel di Era Orde Baru hingga Kontemporer
Memasuki era Orde Baru, pembangunan dan kehadiran hotel di Indonesia berkembang sangat pesat. Setelah masuknya beberapa jaringan manajemen hotel internasional yang merambah ke kota-kota besar, wajah arsitektur hotel di Indonesia menjadi semakin inovatif dan modern. Perkembangan ini juga sejalan dengan meningkatnya industri pariwisata, khususnya di Bali yang mulai dipenuhi turis asing hingga ke pelosok-pelosok terpencil.
Di berbagai daerah, hotel-hotel bersejarah tetap dipertahankan sebagai cagar budaya sekaligus daya tarik wisata. Hotel Pelangi di Malang yang merupakan salah satu hotel tertua di kota tersebut, tetap mempertahankan arsitektur Rumah Joglo dengan kombinasi lantai, plafon, dan hiasan dinding bergaya Belanda. Hotel Salak The Heritage di Bogor yang dibangun sejak 1859 dengan nama Bellevue Dibbets Hotel, masih mempertahankan nuansa kolonial yang mewah dan klasik. Hotel ini awalnya diperuntukkan bagi kalangan elit VOC, dan sempat dijadikan markas militer Jepang pada masa pendudukan.
Pada era kontemporer, transformasi industri perhotelan terus berlanjut. Pemerintah melalui InJourney melakukan konsolidasi hotel-hotel milik BUMN untuk menciptakan ekosistem pariwisata nasional yang lebih kompetitif di tingkat global. Hingga 120 hotel BUMN ditargetkan terintegrasi dalam portofolio InJourney, menjadikannya salah satu operator hotel terbesar di Indonesia. Di sisi lain, muncul berbagai inovasi model bisnis seperti hotel budget dengan konsep gaya hidup yang menyasar generasi milenial dan Gen Z, misalnya SANS Hotels yang mengusung konsep “affordable lifestyle” dengan desain yang instagramable dan ramah media sosial.
Daftar Pustaka
Atal, V. (2026, June 4). How RedDoorz reimagines budget stays for a lifestyle-driven generation. Marketing-Interactive. https://www.marketing-interactive.com:443/how-reddoorz-reimagines-budget-stays-for-a-lifestyle-driven-generation
Hotel Management BINUS. (2016, August 1). Sejarah perkembangan hotel di Indonesia. Hotel Management – BINUS University. https://hotel-management.binus.ac.id/2016/08/01/sejarah-perkembangan-hotel-di-indonesia/
Irham, F. (2025, March 31). Perjalanan panjang industri hotel di Indonesia, dari tradisional ke modern. Radar Banyumas. https://radarbanyumas.disway.id/read/132132/perjalanan-panjang-industri-hotel-di-indonesia-dari-tradisional-ke-modern
Oskaria, D. (2026, June 27). Indonesia’s Danantara merges state hotels under InJourney umbrella. ANTARA News. https://en.antaranews.com/news/420631/indonesias-danantara-merges-state-hotels-under-injourney-umbrella
