Oleh: Evada El Ummah K, S.AB., M.AB.

Membangun portofolio investasi tidak cukup hanya dengan memilih aset yang terlihat menjanjikan atau sedang populer di kalangan investor. Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik, tingkat risiko, dan potensi imbal hasil yang berbeda, sehingga perlu dikombinasikan secara proporsional sesuai tujuan dan profil risiko. Tanpa perencanaan yang matang, portofolio yang tampak menarik pada awalnya justru dapat menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari.
Kesalahan dalam penyusunan portofolio sering kali tidak langsung terlihat karena dampaknya baru terasa ketika kondisi pasar mengalami perubahan signifikan. Saat harga aset mengalami penurunan, banyak investor baru menyadari bahwa dana mereka terlalu terkonsentrasi pada instrumen tertentu atau belum memiliki diversifikasi yang memadai. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda portofolio investasi yang kurang ideal sejak dini agar potensi kerugian dapat diminimalkan. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan investor dalam mengevaluasi portofolio secara lebih cermat dan terencana:
BERGANTUNG HANYA PADA 1 ASET
Portofolio investasi yang terlalu terkonsentrasi pada satu jenis aset cenderung memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Ketika sebagian besar dana ditematkan pada instrumen yang sama, fluktuasi harga aset tersebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap keseluruhan nilai portofolio. Risiko ini akan semakin besar apabila investasi terfokus pada aset yang berasal dari sektor atau industri yang sama, karena pergerakannya umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang serupa. Oleh karena itu, diversifikasi menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi potensi kerugian dan menjaga stabilitas portofolio. Secara umum, aset yang dapat dijadikan sarana investasi terbagi menjadi dua kategori, yaitu aset riil (real asset) dan aset keuangan (financial asset), seperti tampak pada tabel berikut (Adnyana, 2020):
Jenis-Jenis Aset Investasi
| Jenis Aset | Pengertian | Contoh |
| Real Asset (Aset Riil) | Investasi yang dilakukan pada aset yang memiliki bentuk fisik atau wujud nyata. Nilainya umumnya dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kegunaan aset tersebut. | Emas, properti (real estate), tanah, karya seni, koleksi berharga |
| Financial Asset (Aset Keuangan) | Investasi yang dilakukan pada instrumen keuangan yang memberikan klaim atas aset atau pendapatan suatu pihak. | Deposito, saham, obligasi, reksa dana, surat berharga lainnya |
Sumber: Adnyana (2020)
Investasi pada aset keuangan (financial asset) dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli instrumen keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan atau pihak yang membutuhkan dana, seperti saham dan obligasi. Adapun investasi tidak langsung dilakukan melalui lembaga atau perusahaan investasi yang mengelola dana investor dalam bentuk portofolio yang terdiri atas berbagai aset keuangan, seperti reksa dana. Dengan cara ini, investor tidak membeli instrumen dari perusahaan penerbit secara langsung, melainkan melalui perantara yang mengelola investasi tersebut (Adnyana, 2020).
Diversifikasi tidak berarti harus memiliki banyak aset tanpa strategi yang jelas. Sebaliknya, penyebaran dana ke berbagai instrumen dengan karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda dapat membantu mengurangi dampak negatif ketika salah satu aset mengalami penurunan nilai. Dengan portofolio yang terdiversifikasi, potensi kerugian dari satu instrumen dapat diimbangi oleh kinerja aset lainnya. Sebaliknya, apabila seluruh portofolio bergerak mengikuti arah yang sama, investor perlu lebih waspada karena risiko kerugian dapat meningkat secara signifikan saat kondisi pasar memburuk. Hal ini sesuai dg temuan Andreansyah et al., (2025) yaitu dibandingkan dengan portofolio yang tidak terdiversifikasi dan hanya berfokus pada satu jenis aset, seperti saham tunggal, portofolio yang terdiversifikasi melalui kombinasi berbagai instrumen investasi, seperti saham, obligasi, dan reksa dana, cenderung memberikan tingkat imbal hasil yang lebih stabil serta tingkat risiko yang lebih rendah.
ALOKASI ASET TIDAK SELARAS DENGAN TUJUAN INVESTASI
Setiap tujuan keuangan memerlukan strategi investasi yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan begitu saja. Dana yang dialokasikan untuk kebutuhan jangka pendek memiliki kebutuhan likuiditas dan tingkat risiko yang berbeda dibandingkan dana untuk persiapan pensiun atau tujuan jangka panjang. Apabila komposisi aset tidak disesuaikan dengan tujuan investasi, investor berpotensi menghadapi risiko yang terlalu besar atau justru kehilangan kesempatan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana.
Sebagai contoh, dana yang akan digunakan dalam waktu dekat sebaiknya tidak seluruhnya ditempatkan pada instrumen dengan tingkat fluktuasi yang tinggi karena dapat mengganggu ketersediaan dana saat dibutuhkan. Di sisi lain, tujuan investasi jangka panjang umumnya dapat memanfaatkan instrumen dengan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi meskipun pergerakan nilainya cenderung lebih dinamis. Oleh karena itu, kesesuaian antara tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan alokasi aset merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan.
Temuan yang menarik oleh Bangun dkk., (2026) membandingkan antara Perbandingan kinerja 2 portofolio yaitu IHSG dan emas yang mencari komposisi terbaik antara keduanya. Portofolio Risiko Minimum (30% IHSG / 70% Emas) secara signifikan lebih efisien dalam hal risiko dibandingkan investasi 100% pada IHSG atau 100% pada Emas, karena berhasil mencapai risiko 10,1% dengan return 7,5%. Temuan ini memberikan panduan kuantitatif yang jelas bagi investor pemula mengenai bagaimana seharusnya mereka mengalokasikan modal mereka untuk memaksimalkan efisiensi portofolio dalam jangka waktu panjang.
MENGABAIKAN KEMAMPUAN DIRI DALAM MENGHADAPI RISIKO INVESTASI
Setiap investor memiliki tingkat toleransi risiko yang berbeda, sehingga strategi investasi tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan tren atau rekomendasi yang sedang populer. Portofolio yang dianggap ideal oleh orang lain belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan, tujuan, maupun kenyamanan masing-masing investor. Jika penurunan nilai investasi dalam jangka pendek sudah menimbulkan kekhawatiran berlebihan, alokasi aset yang terlalu agresif mungkin perlu ditinjau kembali.
Toleransi risiko juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pendapatan, ketersediaan dana darurat, jumlah tanggungan, serta tujuan keuangan yang ingin dicapai. Investor yang membutuhkan dana dalam waktu dekat tentu memiliki kapasitas risiko yang berbeda dibandingkan mereka yang berinvestasi untuk tujuan jangka panjang. Oleh karena itu, memahami profil dan batas toleransi risiko sejak awal sangat penting agar keputusan investasi tetap rasional dan tidak mudah dipengaruhi oleh gejolak pasar.
TERLALU TERPENGARUH OLEH TREN DAN SENTIMEN PASAR
Teori Portofolio Modern (Modern Portfolio Theory atau MPT) yang diperkenalkan oleh Harry Markowitz pada tahun 1950-an menjadi landasan utama konsep diversifikasi dalam investasi. Teori ini menjelaskan bahwa investor dapat mengoptimalkan tingkat imbal hasil yang diharapkan pada tingkat risiko tertentu melalui kombinasi berbagai aset yang memiliki karakteristik risiko dan imbal hasil yang berbeda. Dengan melakukan diversifikasi secara cermat, investor dapat membentuk portofolio yang lebih efisien, sehingga mampu memaksimalkan potensi keuntungan sekaligus mengelola risiko investasi secara optimal (Andreansyah dkk., 2025).
Portofolio investasi dapat menjadi kurang optimal apabila terlalu sering mengalami perubahan hanya karena mengikuti aset yang sedang populer di pasar. Kenaikan harga yang terjadi dalam waktu singkat memang kerap memicu rasa takut tertinggal atau Fear Of Missing Out (FOMO) (Bangun dkk., 2026). Namun, keputusan investasi yang semata-mata didasarkan pada tren berisiko membuat investor membeli aset pada harga yang sudah tinggi tanpa memahami faktor-faktor yang mendorong kenaikan tersebut.
Selain itu, perubahan strategi yang terlalu sering dapat mengurangi konsistensi dalam mencapai tujuan investasi. Investor mungkin tergoda untuk terus memindahkan dana dari satu aset ke aset lain hanya karena terpengaruh oleh berita, sentimen pasar, atau pergerakan harga jangka pendek. Padahal, strategi investasi yang baik seharusnya dibangun berdasarkan analisis yang jelas, profil risiko, dan tujuan keuangan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya mengikuti euforia pasar, tetapi juga tetap selaras dengan rencana keuangan jangka panjang.
TIDAK MELAKUKAN EVALUASI PORTOFOLIO SECARA BERKALA
Dalam pengelolaan portofolio, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu strategi pasif dan strategi aktif (Adnyana, 2020):
- Bentuk investasi aktif (active investment style), yaitu bentuk investasi yang didasarkan pada asumsi bahwa pasar modal melakukan kesalahan dalam penentuan harga (mispriced). Investor yang tergolong dalam melakukan bentuk investasi aktif mungkin menggunakan analisis teknikal, analisis fundamental.
- Bentuk investasi pasif (passive investment style), yaitu bentuk investasi yang didasarkan pada asumsi bahwa harga-harga sekuritas di pasar sudah ditentukan secara tepat sesuai dengan nilai intrinsiknya atau pasar modal tidak melakukan kesalahan dalam penentuan harga. Pada bentuk investasi pasif terlalu takut untuk menerima risiko maka langkah preferensi risikonya dengan menyusun portofolio.
Portofolio investasi yang tidak pernah dievaluasi dalam jangka waktu yang lama berisiko kehilangan kesesuaiannya dengan kondisi dan kebutuhan finansial investor. Perubahan pendapatan, tujuan keuangan, usia, maupun dinamika pasar dapat memengaruhi peran dan porsi masing-masing aset dalam portofolio. Oleh karena itu, komposisi investasi yang sebelumnya dianggap optimal belum tentu masih relevan ketika situasi telah berubah.
Evaluasi portofolio juga penting untuk memastikan alokasi aset tetap sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Melalui proses ini, investor dapat mengidentifikasi aset yang porsinya sudah terlalu besar maupun terlalu kecil akibat perubahan nilai pasar. Meskipun demikian, evaluasi tidak perlu dilakukan secara berlebihan karena pemantauan yang terlalu sering dapat mendorong keputusan yang emosional dan reaktif terhadap fluktuasi jangka pendek. Yang terpenting adalah melakukan peninjauan secara berkala agar portofolio tetap selaras dengan tujuan investasi dan tingkat risiko yang dapat ditoleransi.
Perlu dipahami bahwa portofolio yang kurang ideal tidak selalu berarti semua aset di dalamnya berkinerja buruk atau harus segera dilepas. Dalam banyak kasus, permasalahan justru terletak pada ketidaksesuaian antara alokasi aset, tujuan keuangan, dan profil risiko investor. Dengan melakukan evaluasi secara berkala dan objektif, investor dapat menyusun strategi yang lebih terarah, menjaga keseimbangan portofolio, serta mengurangi potensi pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh gejolak pasar jangka pendek.
REFERENSI:
Adnyana, I. M. (2020). Buku: Manajemen Investasi dan Portofolio. Jakarta Selatan: Lembaga Penerbitan Universitas Nasional (LPU-UNAS).
Andreansyah, Sidiq, M. S., Putri, A. S., & Dasman, S. (2025). Pengaruh Strategi Diversifikasi Portofolio Dalam Mengelola Risiko Dan Memaksimalkan Return Investasi. Jurnal Manajemen, 12(1), 8-15.
Bangun, M. A. Z., Zais, M., Daulay, M. W., Khairifqi, R., Andini, P., Anditha, P., … & Harahap, M. I. (2026). Optimalisasi Portofolio Sederhana Menggunakan Dua Aset: IHSG dan Emas. Current Research on Practice Economics and Sharia Finance (CAPITAL), 3(4), 50-61.
