Oleh: Endah Lestari,S.ST.Par.,M.Par. & Choirun Niswatin,S.Pd.,M.A.

Maltrunisi telah menjadi isu global sejak tahun 1945 dikarenakan dunia mengalami krisis pangan pasca perang dan menjadi perhatian dunia sejak 1950an (Riskesdas, 2013). Tak terkecuali dengan kondisi Indonesia yang sudah mulai melakukan perbaikan gizi dengan berbagai upaya; diantaranya mendirikan Sekolah Juru Penerang Makanan pada tahun 1951. Pendirian institusi pendidikan ini bertujuan untuk menghasilkan pengkaderan tenaga gizi Indonesia yang menunjukkan perkembangan positif dan pesat pembukaan jurusan bidang relevant dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia (Widyawati, 2019). Sehingga Indonesia mengalami perbaikan gizi yang ditandai dengan menurunnya angka gizi buruk dan stunting secara berturut-turut ± 2-7% .
Namun Indonesia masih mangelami masalah obesitas dan penyakit tidak menular (PTM) yang cenderung meningkat (Pritasari, 2025). Menurut WHO ±155 juta balita atau 22,9% dari populasi balita di dunia mengalami stunting dan Indonesia menduduki posisi kelima (2021). Malnutrisi anak di Indonesia merupakan masalah krusial dan menunjukkan angka yang tinggi (Riskesdas, 2013) khususnya malnutrisi karena kekurangan gizi kronis (stunting, wasting). Sedangkan obesitas dan penyakit menular pada anak sangat rentan mengalami peningkatan (Untoro, 2008). 46% anak balita atau sekitar 10.7 juta balita di Indonesia hidup dalam kemiskinan sehingga kebutuhan gizi minimumpun belum dapat terpenuhi (Valentino, 2017).
Apalagi perubahan iklim yang terjadi dapat mempengaruhi ketahanan pangan global. Indonesia diprediksi menjadi negara yang paling rentan terhadap dam pak buruknya. Akibatnya, jumlah malnutrisi dan ketahanan pangan diperkirakan meningkat secara signifikan. Hal ini sangat berisiko hingga jangka panjang yang dapat menimbulkan masalah lain di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi, khususnya bagi anak-anak yang hidup dalam kemiskinan.
Oleh karena itu pemerintah menjalankan progran unggulan prioritas sebagai upaya perbaikan gizi yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi anggaran Rp51,5 triliun (dan berpotensi tambahan hingga Rp100 triliun). Sasaran program MBG 17,9-82,9 juta jiwa, termasuk ibu hamil dan anak sekolah sebagai solusi awal untuk mengurangi gizi buruk dan stunting. Pemerintah juga meningkatan kapasitas & teknologi gizi dengan memanfaatan teknologi untuk pemantauan gizi, peningkatan kapasitas petugas gizi di Puskesmas/RS, serta penggunaan bahan pangan lokal untuk perbaikan gizi berbasis komunitas. Pemerintah juga melaukan perbaikan tata kelola, edukasi kesehatan kepada masyarakt melalui gerakan masyarakat (GERMAS) serta pemenuhan gizi yang terintegrasi (spesifik dan sensitif). Selain itu pemerinta meningkatkan akses kesehatan dan sanitasi yang difokuskan pada perbaikan pola asuh, pola makan, serta akses terhadap air bersih dan sanitasi, terutama di daerah dengan prevalensi gizi buruk. Sedangkan monitoring & evaluasi dilakukan untuk penguatan sistem evaluasi program gizi untuk memastikan bantuan (seperti paket makanan MBG) sesuai dan tepat sasaran serta dapat meningkatkan status nutrisi nasional.
Untuk mendukung program pemerintah tersebut, POLTEKOM melalui LPPM bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi D4 Destinasi Pariwisata Politeknik Kota Malang melakukan kegiatan sosialisasi Tata Hidang Menu Sehat Susu kepada anak asuh Yayasan Panti Asuhan (YPA) Baitur Rohmah Al-Amanah-Malang sebagai Mitra kegiatan. Pemilihan menu Susu didasarkan atas pertimbangan bahwa susu termasuk bahan pangan yang kaya zat gizi dan penting dalam pemenuhi kebutuhan gizi seorang anak. Susu membuat status gizi anak jadi lebih baik dan sangat mempengaruhi tinggi badan anak dan tidak mempengaruhi berat badannya. Susu merupakan suatu jenis minuman sekaligus makanan yang memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap yang diperlukan oleh semua kelompok usia (Untoro, 2008)
Namun, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah, yaitu ±12,1 liter/kapita/tahun (BPS, 2015) bila dibandingkan dengan konsumsi susu di negara asia apalagi Eropa seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Meski kebutuhan susu domestik hanya terpenuhi 20% saja, tapi mayoritas peternak sapi perah nasional berada di Jawa, khususnya Jawa Timur dengan pusat terbesar Pujon, Malang, dan Blitar (Wulan, 2025). Oleh karena itu Tim Pengusul dan Mitra melakukan kesepakatan untuk memberi edukasi literasi ilmiah melalui kegiatan sosialisasi Tata Hidang menu sehat susu kepada anak asuh Yayasan Panti Asuhan Baitur Rohmah Al Amanah-Malang. Kegiatan sosialisasi ini perlu dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam mengatasi malnutrisi, menghasilkan generasi yang lebih sehat dan cerdas.
Pelaksanaan kegiatan sosialisasi Tata Hidang Menu Sehat Susu dilaksanakan selama 2 bulan; November- Desember 2025 di ruang belajar bersama yang berada di gedung YPA Baitur Rohmah lantai dua. Kegiatan ini dilakukan hanya satu kali dalam sepekan pada hari Jumat dengan durasi 30 menit setiap pertemuan dengan pertimbangan padatnya jadwal kegiatan sekolah dan Panti. Jumlah peserta kegiatan ini terdiri dari 37 anak asuh. Namun rerata yang hadir kurang dari 20 anak dikarenakan jadwal sekolah umum. Bagi mereka yang tidak dapat hadir saat jadwal sosialiasi tetap mendapatkan 1 paket susu.
Materi dalam kegiatan sosialisasi menu sehat susu dalam pengabdian kepada masyarakat ini disusun dalam bentuk modul praktis yang menjelaskan konsep menu sehat, penyusunan menu yang mengintegrasikan susu sebagai sumber protein dan kalsium, mengikuti pedoman gizi seimbang yang mencakup pengenalan nilai gizi susu dan manfaat penerapan tata hidang susu, susu sapi murni dan kandungan gizinya, prinsip menu sehat berbasis susu, prinsip penyajian menu sehat susu yang menarik dan aman, teknik tata hidang susu untuk anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia, serta penerapan tata hidang sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari di lingkungan panti asuhan.
Rekomendasi untuk Tim Pengabdi brikutnya:
1). Perbaikan Metode
Bagi pengabdi berikutnya disarankan untuk menggunakan mix metode untuk mendesain dan mencetak media sosialisasi; hardfile berupa flyer, poster, backdrop,dll. dan digital campagne dengan aktif memanfaatkan media sosial.
2). Pengembangan Teknologi
Perlu dilakukan riset kolaborasi untuk experiment pemahaman menu sehat, komparasi perkemabngan anak yang konsumsi susu dan tidak konsumsi susu dalam kurun waktu satu tahun, baik fisik dan cognitive. Sehingga didapatkan data real untuk dijadikan dasar keilmuan dan gizi anak dalam mengatasi malnutrisi.
3). Perluasan Jangkauan
Disarankan untuk menggunakan tema dan materi yang sama dengan peserta dan mitra yang berbeda untuk gencar sosialisasi meu seht susu. Dengan jangkauan luas diharapakan menu sehat susu dapat dijadikan pertimbangan sosial dalam memilih menu jajanan dan konsumsi anak.
Sumber Referensi:
- BPS. 2015. Tingkat Konsumsi Susu Orang Indonesia. Hartoyo, Sulaeman, dkk. 2007. Dampak konsumsi susu dan pengasuhan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak 2-5 tahun di Kota Bogor. Media Gizi dan Keluarga. 2007; 31:27-30.
- Chartsbin. 2017. Current Worldwide Total Milk Consumption per Capita. Available from: www.chartsbin.com.
- Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI. 2013.
- Untoro, Rachmi. 2008. Depkes: Susu Salah Satu Sumber Gizi Terlengkap. FAO. Milk and Milk Product.
- Valentino J, dkk. 2017. Pengaruh Asupan Susu terhadap Tinggi Badan dan Berat Badan Anak Sekolah Dasar. Jurnal e-Biomedik (eBm), Volume 5, Nomor 2, Juli-Desember 2017 .
- Widyawati, 2019. Ini sejarah Hari Gizi Nasional. kemenkes,go.id. Wulan, MK. 2025. Kesetiaan Peternak Sapi Perah yang Tak Pernah Sirna. Jakarta: Kompas.id
