Manajemen Pemasaran Internasional

TENAGA MARKETING AKAN DIGANTIKAN TENAGA ROBOTIK

Author: Ahmad Dzulfikri Budi Kusworo.,S.E.,M.M

Tenaga marketing bertugas menjadi orang yang menjualkan produk perusahaan kepada konsumen sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan dari setiap produk yang terjual. Bertugas untuk mencari informasi dan menyampaikannya kepada perusahaan mengenai kelebihan dan kekurangan dari sebuah produk yang dijual. Tenaga marketing dibagi menjadi 2 macam yaitu divisi sales dan marketing.

Meskipun sales dan marketing sama-sama merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai target keuntungan.

Sales dan marketing memiliki fokus yang sama sekali berbeda. Orang yang bertugas di divisi sales memiliki tanggung jawab menjaga hubungan dengan calon klien yang akhirnya berujung pada penjualan. Sementara itu, marketing meliputi segala hal yang membantu meningkatkan ketertarikan pada barang dan jasa yang dijual.

Perbedaan sales dan marketing yang berikutnya terlihat dari proses kerja. Tim sales akan menghadapi langsung konsumen alias one-on-one.

Sales bisa saja langsung datang ke lokasi calon konsumen atau pembeli, menghubungi lewat telepon, dan bisa juga bertemu di sebuah acara atau kegiatan.

Pada beberapa jenis perusahaan, bahkan tim sales harus melakukan pendekatan dan perlakuan yang berbeda pada tiap konsumen karena proses kerjanya memang berupa aktivitas langsung. Supaya tim sales bisa melakukan penjualan, ada tim marketing yang melakukan analisis pasar, termasuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen.

Perbedaan sales dan marketing, tim marketing menyiapkan tools dan konsep yang akan membuat customer mencari barang dan produk yang sudah disiapkan. Tim sales yang bertugas melayani para calon customer ini agar produk bisa laku terjual.

Tim marketing perlu membayangkan kembali produk yang sudah pernah sukses laku di pasaran sebelumnya, cara promosi, dan kelebihan produk sebelumnya, hal itu dilakukan agar bisa merancang strategi yang akan dipakai saat memasarkan produk.

Perkembangan automatisasi serta kecerdasan buatan merupakan tantangan baru bagi para pekerja. Akan banyak bidang-bidang pekerjaan yang tergantikan oleh mesin. Para pekerja perlu meningkatkan kemampuannya.

Perkembangan teknologi akan membuat dampak tersendiri terhadap dunia tenaga kerja. Diprediksi sekitar 75% pekerjaan rutin dan mekanis akan digantikan dengan mesin atau robot. Apalagi perkembangan teknologi kecerdasan buatan semakin lama semakin menarik.

Karakter perubahan yang sangat cepat, mau tidak mau, mengharuskan industri untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Para pengusaha dituntut untuk lebih memfokuskan berinvestasi menggantikan perangkat kerja, juga sistem kerja. Pada akhirnya hal itu akan menyebabkan pengurangan pada kebutuhan sumber daya manusia.

Sebuah laporan dari McKinsey, misalnya, memprediksi berbagai sektor industri, terutama bagian teknik akan digantikan dan kecerdasan buatan dalam beberapa waktu ke depan. Proses automatisasi ini akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja sampai 78%.

Bagian yang terkena dampak adalah pekerjaan pemrosesan data, terutama yang terkait keuangan dan asuransi. Diperkirakan juga akan tergerus 69%. Selanjutnya, bagian pengumpulan data akan terautomatisasi 64%. Sementara itu, pekerjaan yang paling minim tergantikan oleh robot adalah yang berkaitan dengan cara berpikir manusia seperti memanajemen orang lain dan pengambilan keputusan.

Menjelang 2030 robot dan kecerdasan buatan mulai menjadi sesuatu yang umum. Banyak perusahaan di dunia mulai bersiap memanfaatkan teknologi canggih tersebut. Automatisasi menjadi unsur yang acap kali digaungkan robot dan kecerdasan buatan.

Sayangnya menurut laporan Oxford Insights dan International Development Research Center yang bertajuk Government AI Readiness Index 2019 menunjukkan, Indonesia dalam penerapan AI di pemerintah peringkat kelima di ASEAN. Sedangkan di dunia, Indonesia berada di posisi 57 dari 194 negara dengan skor 5,420.

Sementara itu, dalam sebuah riset Microsoft bertajuk Future Ready Business: Assessing Asia-Pacific’s Growth with Artificial Intelligence (AI) menyebutkan, industri keuangan di Asia Pasifik yang menerapkan kecerdasan buatan mencatat perbaikan di lima area. Area tersebut adalah keterlibatan pelanggan, daya saing, inovasi, margin, dan kecerdasan bisnis.

Source: freepik.com

Peningkatan tertinggi terjadi pada margin yang diperkirakan melaju hingga 2 kali lipat, yaitu dari 17% pada 2019 menjadi 35% pada 2021. Selain itu, laporan ini juga menyebutkan kecerdasan buatan berkontribusi meningkatkan daya saing hingga 41% pada 2023.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee menyebutkan, ada pemain baru di industri keuangan Indonesia yang telah menerapkan layanan berbasis teknologi. Mereka cukup berhasil menjangkau pelanggan melalui kecerdasan buatan. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi pemain lama untuk memanfaatkan data dan kecerdasan buatan demi meningkatkan daya saing.

Di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi itu pelan-pelan sudah mulai bergerak. Mesti kecepatannya tidak sehebat di negara-negara maju, tetapi mau tidak mau, Indonesia pasti akan memasuki era tersebut.

Menyambut perkembangan yang semakin cepat ini, misalnya, pemerintah telah menetapkan kebijakan berupa kartu prakerja, yang dimungkinkan untuk menambah keterampilan calon tenaga kerja agar bisa sesuai dengan kebutuhan industri. Hal ini dipentingkan untuk memanfaatkan bonus demografi yang kini dinikmati Indonesia.

Tenaga produktif yang berlimpah harus dibentuk untuk dapat menjawab kebutuhan zaman.      Di lain sisi, serikat-serikat pekerja harus mulai menyadari perkembangan yang sangat cepat ini sehingga mereka mampu melihat persoalan yang dihadapi dunia usaha dengan kacamata yang lebih clear. Oleh sebab itu kita sebagai tenaga marketing harus mempunyai kompetensi yang dibutuhkan perusahaan agar tidak tergantikan oleh tenaga robotik/kecerdasan buatan. Contoh harus bisa berkolaborasi dengan dunia teknologi.

Source: freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *