Akuntansi

HOW TO START A BUSINESS AS A COLLEGE STUDENT

Author: Fri Medistya Anke Priyono, S.E., M.A.

Dosen Program Studi Akuntansi

Bisnis, salah satu kata yang tampak istimewa saat diucapkan tetapi penuh perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak sedikit orang yang memulai bisnis harus berjuang dari nol dengan hasil akhir kesuksesan, ada juga yang harus berakhir dengan kebangkrutan. Tetapi ada beberapa orang yang hanya melanjutkan bisnis secara turun menurun karena sudah dimulai oleh orang tuanya. Kedua hal tersebut mempunyai cara dan tantangan tersendiri agar bisnis tetap berjalan dalam jangka waktu semaksimal mungkin.

Sumber: freepik.com

Memulai bisnis juga bisa dilakukan saat kita menjadi mahasiswa atau mahasiswi di suatu perguruan tinggi. Bukan karena hal tersebut kewajiban yang ada di mata kuliah Kewirausahaan, tetapi belajar lebih awal itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Banyak harapan orang tua dengan anaknya kuliah dan IPK yang bagus maka bisa kerja sebagai karyawan atau karyawati di suatu perusahaan, hal ini tidak salah tetapi mempersiapkan diri untuk belajar berbisnis itu juga bisa menjadi salah satu pilihan. Karena dalam memulai bisnis membutuhkan dukungan, modal, dan tentunya komitmen dari diri sendiri.

Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita pelajari terlebih dahulu konsep Dagang dan Bisnis karena dua hal ini tampak sama tetapi berbeda. Dagang adalah proses jual beli barang atau jasa yang berfokus pada keuntungan, sedangkan bisnis adalah sebuah proses dalam berdagang dengan fokus pada hasil jangka panjang yang lebih besar. Kita contohkan pada penjual bakso yang memulai berdagang keliling dengan gerobak sejak usia 20 tahun, setiap pagi dia harus mempersiapkan jualannya dan malamnya dia akan menghitung total uang yang diperoleh.

Jika menggunakan konsep dagang, maka penjual bakso tersebut akan melakukan hal yang sama sampai dia berusia 50 tahun. Akan berbeda saat penjual bakso menggunakan konsep bisnis, maka di usia 25 tahun dia akan mencoba untuk menyewa tempat lalu rekruitmen karyawan. Setelah itu dia akan berusaha untuk promosi, membuka cabang, dan masih banyak lagi. Jadi berbisnis itu dimulai dari berdagang tetapi perlu adanya perencanaan, konsistensi dan didukung dengan inovasi.

Business Plan atau perencanaan bisnis mempunyai banyak poin yang harus dilakukan, tetapi untuk para mahasiswa atau mahasiswi yang ingin memulai bisnis cukup lakukan 6 hal berikut ini:

  1. Lakukan riset terkait produk yang akan dijual dan tentukan konsep
  2. Tentukan strategi pemasaran dan analisa kompetitor
  3. Rencanakan desain dan pengembangan
  4. Rencanakan operasional dan manajemen
  5. Rencanakan pengelolaan keuangan yang tepat
  6. Evaluasi

Mari kita bahas satu per satu terkait perencanaan bisnis di atas. Dimulai dengan riset terkait produk karena hal ini yang akan menentukan apa yang akan dijual, bisa produk ataupun jasa. Jika yang dijual adalah produk, tentukan apakah akan diproduksi sendiri atau membeli dari pemasok. Tetapi jika yang ditawarkan adalah jasa, maka harus dipastikan terlebih dahulu apakah jasa tersebut akan diterima oleh lingkungan tempat kita berbisnis.

Baik produk ataupun jasa, intinya kita harus mempunyai konsep yang tepat karena hal tersebut akan mempengaruhi perencanaan bisnis yang lain. Contoh konsep adalah tentukan merk dagang, nama toko, nama produk, dan logo. Misalnya kita akan berdagang pakaian, maka tentukan yang akan ditawarkan itu pakaian pria, pakaian wanita, atau pakaian anak-anak dengan kisaran harga menengah ke bawah atau menengah ke atas. Yang terpenting adalah tentukan apakah memulai berdagang secara offline, online atau perpaduan keduanya.

Selanjutnya adalah pemasaran atau biasa disebut promosi, hal ini akan menjadi “ujung tombak” kita dalam memulai bisnis karena para calon pelanggan tidak akan pernah datang tanpa adanya hal ini. Promosi pun bisa dilakukan dengan cara offline, online, ataupun keduanya. Untuk offline bisa seperti penyebaran brosur, pemasangan pamflet, B2C (Business to Customer) dimana kita bisa menawarkan langsung produk atau jasa kita kepada pembeli.

Sedangkan untuk online, kita bisa memulai dengan membuat konten di beberapa sosial media (TiK Tok, Instagram, dan lain-lain), memasang iklan di sosial media, daftar di google, dan fitur story di WhatsApp. Jika penjualannya melalui E-Commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan lain-lain biasanya ada fitur promosi yang ditawarkan dan fasilitas tersebut bisa digunakan juga. Tetapi jangan lupa untuk analisa kompetitor agar kita juga bisa menyesuaikan promosi apa yang tepat.

Karena banyak permasalahan yang terjadi promosi sudah maksimal tetapi belum ada pembeli yang mampir, hal ini bisa terjadi karena kita lupa bahwa kompetitor juga melakukan hal yang sama dengan kita. Oleh karena itu cari hal yang berbeda sehingga calon pembeli tertarik dengan produk kita.

Ketika ingin unggul dari kompetitor, tentu kita tidak bisa diam di satu tempat dan melakukan hal yang itu-itu saja. Harus selalu ada sesuatu yang baru agar bisnis yang dijalankan tetap satu langkah di depan kompetitor. Maka dari itu diperlukan desain dan pengembangan untuk membuat hal yang “beda” antara produk atau jasa yang kita tawarkan dengan kompetitor.

Contohnya saat kita berjualan pakaian wanita dari bahan katun dengan harga sekitar Rp. 100.000,- dengan model pakaian yang kekinian dan motif yang selalu berganti setiap minggu. Disitu kita juga bisa menjual tas, hijab, ataupun sepatu yang cocok dengan pakaian yang dijual. Sehingga hal ini membuat pembeli cukup datang ke toko offline atau online kita dan bisa membeli semua yang mereka butuhkan.

Langkah berikutnya adalah operasional yang harus tersistem dengan baik, jika kita berjualan secara offline maka bisa dimulai dengan ketentuan jam buka dan tutup toko, proses melayani pembeli, display produk, dan masih banyak lagi. Berbeda jika berjualan secara online, maka kita harus menyiapkan foto produk yang bagus, membalas chat pembeli dengan cepat, proses pengiriman yang cepat, dan lain-lain. Tentunya hal ini harus mempunyai manajemen yang baik seperti job description yang jelas, sistem penggajian yang tepat, keterlibatan kita sebagai pemilik, sistem penjualan, sistem pembelian, sampai dengan pengelolaan produk yang kita jual.

Tidak kalah penting dan sering diabaikan adalah pengelolaan keuangan yang tepat karena selama ini dalam memulai bisnis hanya memperhitungkan uang dari hasil penjualan saja. Padahal kita harus menghitung harga pembelian, menentukan harga pokok penjualan (HPP), dan mencatat biaya-biaya. Misalnya dalam berjualan pakaian wanita kita harus mencatat harga beli di pemasok ditambah dengan biaya kirim atau transportasi dalam pengiriman barang. Karena hal tersebut bisa mempengaruhi HPP produk, setelah itu dalam proses penjualan terdapat biaya packing yang juga perlu kita catat.

Pengarsipan bukti pembelian dan penjualan juga penting sejak awal dimulai usaha karena hal ini akan bermanfaat saat bisnis kita sudah mulai berkembang lalu ingin menjadikannya sebuah CV atau PT. Tentunya hal ini akan berhubungan dengan perpajakan, jadi dengan pencatatan dan pengarsipan yang baik maka pembuatan laporan keuangan juga akan lebih mudah.

Jika kelima hal sudah dilakukan, lakukan evaluasi dengan jangka waktu yang sudah ditentukan. Bisa mingguan, bulanan, semester agar ada perbaikan jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita dalam berbisnis. Lakukan secara konsisten agar kita paham di poin mana yang kurang tepat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Jadi, tertarik untuk memulai bisnis saat menjadi mahasiswa atau mahasiswi? Jawabannya ada pada diri kita sendiri karena belajar bisnis itu seperti mendaki gunung, perlu niat, peralatan yang lengkap, pasokan makanan yang cukup, dan tentunya tenaga serta pikiran dalam proses pendakian. Tetapi hal itu akan sebanding saat kita sudah mencapai puncak, karena rasa lelah selama perjalanan pasti akan terobati dengan rasa puas dan bangga.

Perlu diketahui bahwa untuk menjadi pebisnis tidak hanya modal uang saja tetapi juga harus mempunyai mental yang kuat. Karena dalam berbisnis kadang mengalami keuntungan, kerugian, dan tentunya juga harus siap menghadapi kondisi dan tantangan di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *